Review Buku Gurunya Manusia
Judul Buku : GURUNYA MANUSIA
Penulis : Munif Chatib
Penerbit : Mizan Group
E-ISBN : 978-602-487-006-5
Review by Dety Moenadjat
Berawal dari keresahan saya sebagai orang tua tentang sistem pendidikan di Indonesia yang dewasa ini semakin tidak berpihak pada kemampuan non akademis. Ditambah dengan keluhan-keluhan sesama orang tua terkait banyaknya tugas yang memeras otak dan tenaga anak selama masa pandemi. Maka saya memilih buku ini untuk ditelaah yang mungkin bisa dijadikan referensi bacaan untuk orang tua, pendidik atau teman-teman yang berhubungan dan menaruh minat pada perkembangan pendidikan di Indonesia.
Sukses dengan buku pertamanya yang berjudul "SEKOLAHNYA MANUSIA", dimana di dalamnya dibahas bagaimana seharusnya sekolah yang baik dan mendukung semua siswa untuk menjadi juara, Munif Chatib melanjutkan misinya untuk membangun mutu pendidikan di Indonesia dari segi sumber daya manusia. Keberhasilan sebuah sistem pendidikan tidak terlepas dari peran aktif para pendidik. Maka dari itu, di dalam buku ini penulis gambarkan secara detail hal-hal apa saja yang seharusnya dan tidak seharusnya dilakukan oleh seorang guru. Bukan hanya itu, Munif juga memberikan gambaran yang bisa diadopsi oleh sekolah-sekolah yang ingin meningkatkan mutu dan kualitas lembaganya.
Ada 5 bab dalam buku ini, yang masing-masing berisi, kiat-kiat membangun visi yang sama pada setiap elemen pendidikan dan visi yang bagaimana yang seharusnya dimiliki oleh setiap guru. Visi tersebut yang nantinya akan menentukan berhasil atau tidaknya konsep dan sistem yang telah disepakati. Pada bab berikutnya, Munif mengajak para guru untuk mengajar dengan hati. Saya sempat menangis di bagian ini, layaknya membaca buku fiksi yang penuh metamorfosa. Sebagai seorang yang pernah terjun di dunia pendidikan, buku ini membuat saya ngilu melihat kenyataan pendidikan di negeri tercinta. Banyak siswa yang tanpa disadari telah terampas hak-haknya karena target berupa deretan angka yang harus dicapai sebagai standarisasi keberhasilan suatu pembelajaran.
Beliau, melalui buku "GURUNYA MANUSIA", mengajak para guru untuk mengajar dengan metode yang sesuai dengan multiple intelegensi yang berbeda pada masing-masing siswa. Penulis juga menyertakan strategi-strategi yang bisa diterapkan untuk menyelesaikan kasus di kelas. Membaca bagian ini, saya seperti diajak study banding, atau lebih tepatnya magang di sekolah bertaraf internasional. Betul, layaknya magang, Munif menuliskan secara detail contoh aktivitas di sekolah yang sudah berhasil menggunankan sistem "SEKOLAHNYA MANUSIA" dari mulai siswa datang, bagaimana guru dan ucapan yang memancing semangat peserta didik, kemudian bagaimana sikap dan respon guru terhadap siswanya agar tidak melukai dan mematahkan semangat untuk berprestasi, sampai dengan pesan-pesan yang disampaikan ketika siswa menyelesaikan proses belajar setiap harinya.
Keberhasilan sebuah pembelajaran sangat didukung oleh perencanaan yang matang. Pada bab terakhir, Munif menuliskan bagaimana seharusnya lesson plan yang mendukung multiple intelegens dan menarik. Beliau juga menyertakan contoh lesson plan yang efektif dan bisa diaplikasikan di semua sekolah.
Meskipun buku non fiksi, dan penulis menyampaikan banyak informasi yang padat, tapi dengan adanya contoh-contoh kasus yang disajikan dalam bentuk dialog, membuat buku ini tetap renyah dan tidak membosankan bahkan untuk dibaca oleh mereka yang tidak menyukai bacaan ilmiah sekali pun. Apalagi banyak cerita menarik yang bisa diambil hikmah tentang penulis dan siswanya atau percakapan dengan guru yang dimentorinya, tentang bagaimana guru yang penghasilannya belum mendapat perhatian dari pemerintah itu bisa survive dengan bermodalkan lesson plan. Atau ketika ada orang tua yang menangis haru ketika anaknya yang berkebutuhan khusus menemukan kembali jati dirinya dan berhasil melanjutkan pendidikan di fakultas sesuai dengan minatnya.
Overall, buku ini bagus karena memotivasi kita untuk bersama-sama sadar akan pendidikan yang seharusnya diterapkan. Saya tidak menyesal mencuri waktu disela-sela kesibukan mengasuh empat anak untuk membaca buku ini. Untuk para guru, kepala sekolah dan seluruh manajemen pendidikan, juga teman-teman sesama orang tua, saya sangat merekomendasikan buku ini untuk dibaca.
Baiklah, rentang 1 - 10, saya memberi bintang 9 untuk buku ini. Satu bintang yang saya tinggalkan, bukan karena buku ini tidak bagus, tetapi karena minat pribadi yang kurang pada bacaan non fiksi membuat saya harus berulang-ulang membaca uraian panjang yang disampaikan penulis pada bab-bab tertentu. Namun, itu semua terobati dengan apa yang saya dapatkan setelah membaca buku ini, dan membuat saya serta merta ingin kembali berkontribusi dalam dunia pendidikan.
-Selesai-
Blora, 09062020

Komentar
Posting Komentar