MENASIHATI TANPA MENCELA
MENASIHATI TANPA MENCELA
Assalamu'alaikum Bunda bahagia, ini tulisan pertama saya di blog. Awalnya bingung, saya harus isi artikel apa aplikasi yang sudah lama saya download ini.
Sebagai seorang ibu rumah tangga, dengan empat orang putri yang jarak kelahirannya bisa dibilang dekat, tentu banyak sekali kisah suka dukanya.
Mulai dari anak pertama, dengan usia pernikahan kami yang masih muda, hingga lahirlah tiga anak berikutnya. Saya yakin, Bunda bahagia (Buba) punya pengalaman masing-masing yang tidak kalah unik, seru dan heroiknya. Namun, tidak ada salahnya jika kita saling berbagi. Mana tahu ada satu atau dua kisah yang bermanfaat dan menginspirasi Buba di seluruh Nusantara.
Kali ini, saya ingin berbagi cerita tentang anak pertama dan kedua. Nafisah (7 tahun) dan Zya (4 tahun). Kebayang dong, Buba, bagaimana serunya jika mereka sudah bermain? Yups. Seisi rumah dipenuhi suara dan mainan mereka. Seakan-akan kita yang ngontrak. Haha.
Jadi ceritanya dua hari lalu, anak kedua saya datang mengadu. Dia mengatakan bahwa, kakaknya nakal. Kemudian saya tanya, apa yang dilakukan kakak kepadanya sehingga dia bisa berasumsi si kakak nakal.
Zya, biasa saya memanggilnya lantas menceritakan asal mula kejadian. Ketika dia sedang mengambil beberapa mainan dari rak, si kakak marah, dia bilang, "Dek Zya gak boleh main."
Saya tanya lagi kenapa dek Zya gak boleh main. Dia bilang, kakaknya berkata, "Kalo dek Zya main, pasti berantakan, gak mau beres-beres mainan!"
Dari sini saya tahu maksud si kakak marah. Si sulung memang saya beri tanggung jawab untuk merapikan kembali mainan setelah selesai, saya juga memberi wewenang untuk mengajari dan mengajak adik-adik membantu tugasnya.
Karakter empat anak saya memang berbeda. Si sulung yang cenderung pemalu dan pendiam, tetapi lebih aktif bekerja. Asalkan ada pujian dan sedikit hadiah untuk reward dari usahanya, Nafis pasti mau dan bisa menyelesaikan tanggung jawab yang sudah diamanahkan.
Berbeda dengan anak kedua. Zya cenderung cuek dan ceria, dia hafal beberapa lagu anak juga nasyid dan sering minta dibuatkan video layaknya YouTuber cilik idolanya. Namun, agak sulit untuk mengajaknya taat peraturan dan serapih si kakak. Karakternya menyenangkan, tetapi seringkali menjengkelkan bagi kakaknya, karena saya kerap mendapati, Nafis beres-beres mainan sendiri sambil marah-marah karena adiknya belum mau membantu, padahal mereka bermain berdua.
Namun, saya sangat mengapresiasi, karena meskipun sambil menggerutu, si sulung Nafis tetap saja membereskan mainan, karena bentuk tanggungjawabnya.
Hal pertama yang saya lakukan setelah mendengar Zya bercerita adalah menunjukkan empati. Saya katakan, "Dik Zya pasti sedih, ya, gak boleh main ... kalo gitu, ayuk Bunda temenin main, tapi ...." Ehh, ada tapinya. "Tapi ada aturan mainnya."
Saya jadi ingat waktu ngajar PAUD dulu, memang sekarang saya murni ibu rumah tangga, tapi semua yang saya lakukan saat menjadi tutor, berguna hingga sekarang. Masya Allah, memang Allah selalu memberikan hikmah di setiap proses kehidupan. Tidak terkecuali bencana Corona ini, pasti ada hikmahnya.
Kemudian saya berikan aturan-aturan main kepada Zya, termasuk beres-beres setelahnya--tanpa saya menyampaikan betapa kesalnya si kakak saat mainan yang sudah tersusun rapi jadi berantakan lagi karena ulahnya, beluuum, belum sampai sini, tunggu tanggal mainnya. ehh
Setelah dia puas bermain--dengan direcoki si kembar--yang membuat dia sekali dua kali jengkel juga, emang enak jadi kakak? Ehh, salah ding. Masya Allah, nikmatnya jadi kakak. Saat kesepakatan waktu bermain hampir usai, saya ingatkan kembali tentang peraturan membereskan mainan. Saya ingat dulu, pelatihan yang pernah saya ikuti, bahwa anak-anak butuh waktu. Mereka butuh tahu apa yang harus mereka lakukan--sebelumnya. Ada jeda waktu yang saya berikan untuk mereka 'bersiap-siap'. Alhamdulillah, dia sepakat.
Acara beres-beres pun berjalan dengan sedikit hambatan--dari si kembar. Sepertinya saat ini dia merasakan, betapa jengkelnya jika mainan yang sudah susah payah dikembalikan ke tempatnya dengan sekejap kembali lagi berantakan. Nah, mulai deh, dia marah-marah, adik kembarnya kena sasaran.
Inilah waktu yang tepat untuk saya memberi nasihat. Dua nasihat, yang pertama supaya dia bersabar, karena adik 'belum tahu' dan kedua, tentang menghargai si kakak yang tadi sempat marah-marah juga karena lelah membereskan mainan.
Alhamdulillah, dia bisa menerima. Kemudian saya lanjutkan mensupportnya untuk meminta maaf pada si kakak. Dengan malu-malu, lamaaa banget proses ini. Memang dia berjalan mendekati kakaknya, tapi gak ngomong apapun, malu-malu kucing gitu. Terus dan terus saya support, akhirnya dengan berat hati, tangannya terulur juga. Apresiasi berupa pujian atas keberanian dan tanggung jawabnya pun saya utarakan. Tidak lupa, memintanya berjanji untuk bersama-sama dan bekerjasama membereskan mainan setelah selesai menggunakan.
Pada si kakak, saya mensupport untuk membicarakan saja apa yang dia mau. Kalau dia mau adiknya beres-beres setelah selesai ya bilang saja. Saya sampaikan juga--dibelakang--bahwa adik 'harus selalu' diingatkan, dengan cara yang baik, tidak mencela atau menyindir.
Ada pelajaran berharga yang saya dapat dari pengalaman mendidik anak-anak. Pertama, setiap orang--meski masih anak-anak--perlu dihargai. Jika ingin menegur atau menasihati, lakukan di saat yang tepat dan dengan cara yang tepat. Memberikan pujian atau hadiah atas keberhasilannya melakukan kebaikan akan lebih memotivasi mereka untuk terus berbuat kebaikan. Menjadi seorang ibu, tidak cukup hanya dengan kesabaran. Namun, juga perlu ilmu untuk dapat memahami kondisi dan kebutuhan mereka.
Alhamdulillah, insyaallah selalu ada solusi tanpa emosi. Semangat selalu Bunda-Bunda untuk belajar dan memperbaiki pola asuh. Semoga bunda-bunda di seluruh Nusantara berbahagia. 💞💞
Blora, 05052020
Komentar
Posting Komentar