CEMBURU DENGAN SAUDARA

CEMBURU DENGAN SAUDARA
Writer : Dety Moenadjat


Sembilan tahun berumah tangga, belum cukup menjadikan kami sebagai orang tua yang mumpuni. Meskipun telah banyak teori pengasuhan yang kami pelajari, entah itu dari seminar parenting, acara talk show di televisi, kanal YouTube, atau membaca buku-buku tentang cara pengasuhan, nyatanya dalam aplikasi tidak semudah yang kami ekspektasikan.

Setiap hari, ada saja tingkah polah anak-anak yang membuat kami belajar. Saya pernah membaca teori bahwa, otak anak mudah menerima masukan, tapi mudah pula lupa. Meskipun baru saja kemarin mereka mampu menyelesaikan masalah dan sepakat akan peraturan yang ditetapkan, bisa saja hari ini terulang lagi masalah dan pelanggaran yang sama. Memang seperti itulah anak-anak. Saya dan suami harus paham, karena sabar saja tidak cukup dan jangan pernah bosan mengingatkan.

Empat anak kami memiliki watak yang berbeda. Mungkin karena pola asuh kami pada setiap anak berubah-ubah. Dulu, saat kelahiran anak pertama setelah dua tahun pernikahan, kami begitu excited. 

Meskipun tidak memanjakan, tetapi kami usahakan segala kebutuhan dan keinginannya bisa kami penuhi. Di sisi lain, saya sudah mengenalkan peraturan-peraturan sejak si sulung kecil. Seperti saat usianya dua tahun, sudah saya biasakan untuk belajar makan sendiri, membereskan mainan, membersihkan makanan yang berserakan, atau meletakkan baju kotor ke tempatnya. 

Ada kekhawatiran yang berlebih ketika itu, yang membuat saya membatasi ruang gerak si sulung. Dalam hal makanan juga aktivitas. Akhirnya ini yang membuat dia tumbuh menjadi anak yang mandiri, tegas, kuat dan rapi. Namun, kurang percaya diri.

Saat kelahiran anak yang kedua. Pola asuh kami sudah berubah seiring waktu. Bukan karena kami cenderung terhadap salah satunya, tetapi ada emosi yang berbeda. Kami sudah lebih dewasa, ada pengalaman dari pola asuh sebelumnya. Juga tingkat kekhawatiran yang menurun.

Pola asuh terhadap si nomor dua pun lebih santai dan fleksibel. Saya cukup mengenalkan peraturan dengan konsekuensi yang lebih longgar. lebih banyak memberikannya ruang gerak dan waktu untuk eksplorasi. Masya Allah, karakternya sangat berbeda dengan kakaknya. Anak ini lebih percaya diri, lebih mudah bergaul, kreatif dan bebas menyampaikan pendapat. Namun, melankolis. Masalah kecil saja, bisa membuat anak ini menangis berjam-jam. Meski saya harus akui, empatinya pun lebih besar.

Dulu saat kehamilan kedua, saya sudah mempersiapkan mental dan emosi Nafis untuk menyambut adiknya. Banyak cerita melalui buku atau dengan media boneka saya sampaikan. Tentang bahagianya mempunyai adik, tentang kasih sayang orang tua yang tidak akan berkurang ketika nanti si adik lahir, tentang rencana-rencana kegiatan yang akan kami lakukan bersama keluarga baru. Ini semua saya lakukan demi menjaga hatinya. Agar dia tidak merasa diacuhkan. Saya ingin dia bisa menerima saudaranya dengan bahagia. Dan ada rasa bangga di hatinya memiliki seorang adik.

Alhamdulillah, semua berjalan lancar. Anak yang usianya tiga tahun empat bulan itu ceria menyambut adiknya lahir. Saya berusaha melibatkannya dalam kegiatan yang berhubungan dengan adiknya. Seperti menyiapkan baju setelah mandi, saya mengizinkannya memilihkan. Atau mengambil popok, sampai mengajak adik bermain. 

Namun demikian, ada saat-saat dimana saya sebagai manusia biasa lelah dengan segala rutinitas yang padat dan seorang diri. Karena suami yang sebagai buruh bangunan harus bekerja di luar kota. 

Ada saat-saat dimana emosi saya tidak stabil dan ingin pekerjaan cepat selesai, sedangkan baby menangis dan si sulung belum bisa dikondisikan. Saya mengabaikannya. Ini dosa besar bagi saya. Dan hal ini tidak hanya terjadi sekali dua kali.

Beberapa bulan sejak kelahiran anak kedua, Nafis lebih banyak bermain dengan teman-temannya. Peraturan yang dulu saya terapkan dengan tegas dan sudah menjadi kebiasaan, lambat laun mulai dilanggar. Ada yang memudar. Kebersamaan dan kedekatan kami.

Dia tidak komplain, karena dia memang bukan tipe anak yang bisa seketika menyampaikan pendapat. Saya sangat merasakan perubahannya. Ada yang sesak di dada ketika dia tidak lagi mau meminjamkan mainan pada adiknya, atau dia seringkali terlihat gemas dan mencuri-curi waktu untuk bisa mencubit adiknya. Emosinya menjadi labil. Masalah kecil bisa berlarut-larut dan dijadikan alasan untuk mencari perhatian.

Saya mulai lagi introspeksi. Apa yang salah dan perlu dibenahi. Kemudian saya temukan banyak sekali sebab yang membuat si sulung tidak semanis dulu. Adanya lubang kebutuhan yang tidak terisi.

Dari sini mulai saya perbaiki. Saat baby Zya tidur, saya sempatkan waktu khusus untuk quality time bersama Nafis. Kami bermain, bercerita, peluk dan cium khusus untuknya. Mulai ada komunikasi efektif. Dia mulai bercerita tentang hatinya. "Bunda jangan sama adek terus, dong."

Saya lega mendengarnya, meski ada sesak karena terlanjur mengabaikan, minimal dia sudah mau jujur atas kemauannya. Kemudian saya beri pengertian, pelan-pelan. Bahwa adik masih kecil dan masih membutuhkan bantuan bunda lebih banyak dibanding kakak yang sudah besar dan mandiri. Di sini saya berusaha membangkitkan lagi rasa percaya dirinya, dengan memuji--mbombong--istilah jawanya juga mensupport. Dan ini harus setiap hari, tidak bisa hanya sekali.

Hati anak-anak layaknya kita, Bunda dan calon Bunda. Saat kita dengar suami memuji masakan orang tua dan membandingkan dengan masakan kita--yang saat itu disantapnya--tentu ada sedikit atau banyak rasa cemburu. Meskipun hari ini kita bisa maklumi, lain hari kalau terulang lagi, pasti akan ada muncul rasa yang sama. Apalagi anak-anak yang kondisi emosinya belum stabil.

Saya usahakan dan terus belajar untuk menjaga hati mereka. Salah satu caranya, upayakan untuk bisa meluangkan waktu bersama dengan masing-masing anak. Bukan hanya kebersamaan dengan mereka. Harus ada komunikasi dengan masing-masing anak, empat mata saja. Tanpa saudara yang lain ada.

Diusia anak kedua yang sudah empat tahun ini, masalahnya lebih kompleks. Mereka seringkali berlomba-lomba mencuri perhatian kami, orangtuanya. Ingin menjadi nomor satu dan tidak mau terlihat salah didepan saudaranya.

Ini bisa dikatakan wajar mengingat kebutuhan mereka untuk mendapatkan perhatian, juga jarak usia mereka yang cukup dekat. Namun, saya tetap berusaha untuk meminimalisir. Yang saya terapkan adalah, menjaga supaya mereka tidak gengsi.

Zya pernah tidak terima saat kakaknya bilang dia belum hafal do'a anu atau surat itu. Sedangkan si kakak sudah. Saya kenalkan proses, usaha dan pencapaian akan berjalan beriringan.

Ada adab-adab yang saya terapkan. Seperti tidak mencela, harus saling menghargai dan mendukung. Catatan penting untuk kami, jangan pernah memuji yang berlebihan satu anak didepan saudaranya. Jika ingin memuji, seperlunya saja dan spesifik. fokuskan pada keberhasilannya dalam berusaha. 

Misal si kakak yang berhasil mendapat rangking satu, saya mengapresiasinya dengan memuji "usahanya" yang semangat belajar. Bukan rangking satunya. Atau Zya yang berhasil tampil di pensi akhirussanah. Saya lebih memuji "usahanya" untuk berani dan menghindari kata-kata "kamu pintar", "kamu cerdas" dan lain sebagainya yang tidak spesifik.

Intinya adalah, saya lebih mengapresiasi proses mereka daripada hasil yang mereka dapatkan. Hal ini saya pelajari dan berulang-ulang. trial and error. Pengalaman saya jadikan guru. Beberapa kali saya memuji prestasi mereka, dan sebanyak itu pula saudaranya cemburu. Setelah saya ganti metode dengan memuji usaha--proses, justru ini bisa memotivasi anak yang lain untuk lebih giat lagi berusaha. Masya Allah, mendidik dan mengasuh anak pun ada seninya.

Saya usahakan untuk menahan jika ingin menegur salah satu dari mereka yang bersalah. Sebisa mungkin menegurnya ketika sedang berdua. Anak-anak pun memiliki rasa gengsi, sama seperti kami orang tuanya. Kami akan merasa tercela jika seseorang menegur atau menasihati dihadapan orang lain. Rasa itulah yang ingin kami jaga. Dan ini efektif. Si anak bisa menerima nasihat dan menyadari kesalahannya tanpa merasa buruk dihadapan saudaranya. Juga bersedia dengan senang hati memperbaiki kesalahan.

Sedikit sharing saya, Bunda. Tentu Bunda-Bunda yang membaca ini sudah jauh lebih pandai dalam mendidik dan mengasuh anak-anak. Pengetahuan saya yang masih coba ralat belum ada apa-apanya dibanding Bunda-Bunda hebat di seluruh Nusantara.

Tidak ada niat apa-apa, hanya ingin berbagi pengalaman. Mana tahu ada satu dua point yang bermanfaat, Alhamdulillah. Jika ada kekurangan dan kesalahan, dalam hal penulisan dan isi, saya mohon maaf dan tidak perlu sungkan menegur saya dengan kritik dan saran. Saya dengan senang hati menerima.

Terima kasih kepada admin yang telah berkenan meloloskan tulisan ini. Kritik dan sarannya silakan.

Blora, 06052020

Komentar